Topologi rumah rasa kantoran alias topologi SOHO

Ngoprek openwrt yang agak ruwet

  ·   3 min read

Singkat cerita saya lulus di September 2025 dan pulang kampung ke rumah. Nah setelah saya pulang kampung, saya menyadari bahwasan-nya apabila saya tidak bisa hidup dengan wifi dan nampaknya biaya pengeluaran untuk kouta keluarga makin menggila gegara saya berada dirumah. Saya termasuknya orangnya lumayan suka yang namanya streaming konten dan mendownload, Linux saya rolling duh (Arch Linux sih, sekarang sudah pindah ke Fedora) hehe

Keluarga saya pun langganan lah itu RT/RW Net yang bermitra dengan gmdp. Saya pikir selama providernya mampu memberi internet unlimited tanpa batas kouta (Fair Usage Policy itu kalau disederhanakan bahasanya itu kouta). Sebenarnya internetnya lumayan lancar di awal awal pemakaian tetapi ont aka router bawaan-nya buset dah, dihantam pakai pixie-dust itu kena sekali hit pakai tool termux gila. Jadi saya menggantinya dengan router yang lebih baik dan tentu sudah ada 5G. jadi topologi rumah kurang lebih seperti ini :

ONT (Bridge Mode) -> Router Tambahan (Archer A6, Dial dan WiFi)

Nah ternyata menemukan masalah baru, kamar saya tidak terjangkau dari wifi sehingga setelah berberapa bulan dari pemasangan router tambahan memerlukan sebuah access point tambahan agar mempermudah hidup saya jadi tidak perlu keluar kamar dan bisa menambah kapasitas perangkat yang bisa disambung lewat kabel lan aka kabel rj45. Mungkin kalian bertanya kenapa Access Point bukan Router? karena saya menghindari double NAT dirumah dan agar perangkat bisa berkerja lebih ringan. Jadi topologinya berupa :

ONT (Bridge Mode) -> Router Utama -> Access Point Kamar

Tetapi masalah pun belum selesai karena saya asal membeli router sehingga 5G-nya tidak berbaca di laptop karena frekuensinya belum dianggap ada di Indonesia padahal diperaturan komdigi sudah ada (gegara beli router bekas frek Amerika). Sehingga saya menggantinya dengan router korea yang ada si marketplace (HFR H73G) tapi nyettingnya nauzubilah susah banget lihatlah video singkat ini. Nah setelah itu saya mendadak kepengen VPN di internet rumah sehingga topologi saya berubah lagi:

ONT (Bridge Mode) -> OpenWRT (Phicomm K2)-> Access Point Utama (router Archer A6 berubah mode jadi AP) -> AP Kamar

Nah ternyata, Phicomm K2 tersebut tidak berdaya dengan VPN Wireguard sehingga saya menambahkan STB bekas yang saya beli dari market place dan menggunakan Phicomm ini sebagai switch management yang menjadi sarana Router On A Stick (ROAS). Jadi topologi final saya sebagai berikut :

ONT (Bridge Mode) -> OpenWRT (STB [ROAS])-> Access Point Utama -> Access Point Kamar

Jadi bagaimana caranya agar STB tersebut dapat terkoneksi ke Internet rumah dengan hanya satu port? Pakai VLAN tag 10 sebagai lan dan 20 sebagai wan di OpenWRT STB dan Phicomm K2 kemudian Dial PPPoE dan DHCP Server dilakukan dari STB. Namun setup ini juga nampaknya masih ada kekurangan yaitu ketika listrik anjlek terkadang tidak langsung menyala STB-nya jadi perlu di colok cabut secara manua, mungkin lain waktu bisa membeli perangkat yang lebih bagus daripada STB untuk router utamanya. Jadi topologi saat ini adalah

ONT (Bridge Mode) -> OpenWRT (STB [ROAS])-> Access Point Utama -> Access Point Kamar

Sekian pengalaman homelab saya yang sangat membagongkan sepanjang 2025 akhir hingga Juni 2026. Semoga ada yang bisa diambil manfaatnya, apabila artikel ini membingungkan anda bisa DM Instagram atau email saya.